Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Makalah. Tampilkan semua postingan

Makalah Wawasan Bdy Melayu

dirayumna


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Setiap masyarakat selama hidup pasti mengalami perubahan-perubahan. Perubahan dapat berupa perubahan yang tidak menarik dalam arti kurang mencolok. Adapun perubahan yang pengaruhnya terbatas maupun yang luas, serta ada pula perubahan-perubahan yang lambat sekali, akan tetapi ada juga yan berjalan dengan cepat.
Perubahan-perubahan masyarakat dapat mengenai nilai-nilai sosial, norma-norma sosial, pola-pola perilaku karena luasnya bidang dimana mungkin terjadi perubahan-perubahan tersebut. Maka bilaman seseorang hendak membuat penelitian perlu terlebih dahulu ditentukan secara tegas, perubahan apa yang dimaksudkannya. Dasar penelitian mengkin tak akn jelas apabila hal tersebut tidak dikemukakan terlebih dahulu.
Perubahan-perubahan dalam masyarakat memang telah ada sejak dahulu, landasan teori perubahan kebudayan suatu fenomena yang abadi dalam kehidupan di dunia ini. Perubahan kebudayaan adalah adanya ketidaksesuaian diantara unsur-unsur kebudayaan yang saling berbeda, sehingga terjadilah keadaan yang tidak sesuai dengan fungsinya bagi kehidupan. Apabila manusia makhluk sosial, yang tidak bisa mempertahankan hidup selamanya. Segala sesuatu yang ada di dunia ini akan mengalami kerusakan dan hanya ada satu yang abadi yakni tuhan yang maha Esa.
Di dalam artikel mejelaskan dan menerangkan kebudayaan melayu yang dibawa oleh negara-negara dibelahan nusantara yang mengembangkan nilai sosial, tradisi, adat istiadat yang ada di indonesia. Di Nusantara kebudayan Melayu di datangkan di Belahan Nusantara. Pengertian melayu ada dua, melayu tua ( Proto Melayu ) dengan melayu muda (Deutro Melayu), Jadi semua ini untuk melihat kembali fakta-fakta kebudayaan yang telah ada dan berkembang di Indonesia khususnya Riau.



B.       Rumusan Masalah
1.      Bagaimana sejarah  melayu ?
2.      Bagaimana asal usul budaya melayu ?
3.      Bagaimana Teori-Teori Asal-Usul Bangsa Melayu ?
4.      Bagaimana evolusi budaya melayu ?
C.      Tujuan Penulisan
  1. Untuk mengetahui tentang sejarah melayu.
  2. Untuk mengetahui tentang asal usul budaya melayu.
  3. Untuk mengetahui tentang teori-teori asal-usul Bangsa Melayu.
  4. Untuk mengetahui tentang  evolusi budaya melayu .
.D.  Manfaat
Dapat mengetahui bagaimana sebenarnya tentang sejarah budaya melayu, Semoga  apa yang penulis sampikan melalui makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan penulis.















BAB II
PEMBAHASAN

A.      Sejarah Melayu
Melayu merupakan salah satu etnis atau suku yang masyarakatnya tersebar di sekitar Asia Tenggara. Sejarah dan budaya melayu memiliki hubungan erat dalam perjalanan panjang bangsa Indonesia, bahkan sebelum Kerajaan Melayu itu benar-benar ada. Dengan komunitas etnis yang tersebar di hampir seluruh wilayah Asia bagian tenggara, dan saat ini terdapat banyak negara di Asia Tenggara dengan bahasa asli yang mewakili masing-masingnya, namun ternyata aspek budaya di dalamnya saling memiliki keterkaitan akar budaya yang tidak bisa dielakkan atau dinafikan begitu saja.
Ketika mendengar kata 'Melayu', masing-masing dari kita mungkin memiliki penafsiran yang berbeda atau bahkan ambigu. Bagi orang-orang yang berdomisili di Sumatera, Melayu identik dengan kelompok etnis (suku) tertentu yang mendiami pesisir timur Sumatera beserta kepulauan di sekitarnya. Semisal, orang Minangkabau dan orang Aceh mengadopsi nama Melayu bagi orang-orang Sumatera lainnya yang berbicara Bahasa Melayu, yang memang bukan bahasa ibu kedua suku tersebut. Orang-orang dari Suku Melayu sendiri menganggap kebudayaan dan identitas yang mereka miliki sebagai suatu entitas kultural yang unik, berbeda dari suku-suku lainnya di Nusantara.
Suku Melayu tak hanya mendiami pesisir Timur Sumatera dan kepulauan sekitarnya, namun juga wilayah yang lebih luas lagi, mencakup Semenanjung Malaysia, hingga pesisir Utara dan Barat Kalimantan. Berdasarkan fakta tersebut, bisa jadi Suku Melayu merupakan kelompok etnis Austronesia yang mendiami wilayah daratan terluas. Konsep 'Austronesia' sendiri umum dipakai untuk merujuk kepada wilayah geografis yang didiami oleh orang-orang yang bahasanya dapat dikategorikan ke dalam rumpun bahasa Austronesia (Austronesian language), wilayah yang terbentang dari Madagaskar hingga Pulau Paskah, dari Kepulauan Hawaii hingga Selandia Baru, yang ditengah-tengahnya terbaring Kepulauan Nusantara.
Perlu dicermati, rumpun bahasa Austronesia merupakan satu kelompok bahasa yang memiliki jumlah bahasa terbanyak di dunia (sekitar 1200 bahasa). Selain itu, rumpun bahasa ini mempunyai rentang wilayah sebaran geografis terluas di dunia sebelum masa ekspansi bangsa Eropa (setelah 1492 M), yang bahkan mengalahkan rumpun bahasa Indo-Aryan sekalipun, yang notabene mendominasi dunia sekarang ini.
B.       Asal-Usul Bangsa Melayu
Membicarakan sejarah pasti berkenaan dengan masa lalu atau masa silam. Sejarah “ tidak terpisah dari “budaya” atau “kebudayaan” (cultural historiography). Kebudayaan sebagai hasil karya manusia, baik dalam bentuk material buah pikiran maupun corak hidup manusia. Menurut EB. Taylor kebudayaan mencakup aspek yang amat luas, yakni pengetahuan. Kepercayaan, kesenian, moral, dan adat istiadat dan bahkan segala kebiasaan yang dilakukan dan dimiliki oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Nenek moyang orang melayu ternyata beragam, ada yang berasal dari suku Dravida di India, ada juga Mongolia atau campuran dari Dravida dan Aria kemudian kawin dengan ras Mongolia. Mereka datang kenusantra dengan cara bergelombang.
C.      Teori-Teori Asal-Usul Bangsa Melayu
Secara umum terdapat 2 teori mengenai asal usul bangsa melayu yaitu sebagai berikut  :
1.     Orang Melayu Berasal dari Yunan ( Teori Yunan)
         Berdasarkan teori ini dikatakan orang melayu datang dari Yunnan ke Kepulauan Melayu menerusi tiga gelombang yang utama, yaitu orang Negrito, melayu proto dan juga melayu Deutro.
a.    Melayu Tua (Proto Melayu)
     Disebut melayu tua (proto melayu) karena inilah gelombang perantau pertama datang ke kepulauan melayu. Leluhur melayu tua ini diperkirakan oleh para ahli arzekeologi dan sejarah tiba sekitar 3000-2500 sebelum masehi. Adapun tergolong kedalam melayu tua (Proto Melayu) itu antara lain orang talang mamak, orang sakai, dan suku laut. Keturunan melayu tua ini terkenal amat tradisional, karena mereka amat teguh sekali memegang adat dan tradisinya. Pemegang teraju adat seperti patih, batin dan Datuk kayu, amat besar sekali perananynya dalam mengatur lalu lintas kehidupan. Sementara itu alam pikiran yang masih sederhana dan kehidupan sangat ditentukan oleh factor alam, sehingga mereka mampu menghasilkan makanan dengan cara bertani.
Perkampungan puak melayu tua pada masa dulu jauh terpencil dari perkampungan melayu muda. Ini mungkin berlaku karena mereka ingin menjaga kelestarian adat dan resam ( tradisi) mereka. Keadaan ini menyebabkan mereka amat ketinggalan dalam bidang pendidikan sehingga kemajuan mereka amat lambat sekali.
           b.   Melayu Muda (Dutro Melayu)
Melayu muda yang disebut juga Deutro Melayu gelombang kedua. Kedayangan nenek moyang mereka tiba antara 300-250 tahun sebelum masehi, mereka lebih suka mendiami daerah pantai yang ramai disinggahi prantau dan daerah aliran sungai-sungai besar yang terjadi lalu lintas perdagangan, karena itu mereka bersifat lebih terbuka dari melayu tua. Sytem social dan syteam nilainya punya potensi, menghadapi perubahan ruang dan waktu serta selera zaman.
Pada masanya baik melayu tua muda sama-sama memegang kepercayaan nenek moyang yang disebut animisme ( semua benda yang mempunyai roh) dan dinamismeS (roh-roh nenek moyang) keperccayaan ini kemudian semakin kental, oleh ajaran hindu dan Budha sebab antara kedua kepercayaan ini hampir tidak ada bedanya. Keduanya sama-sama berakar pada alam pikiran leluhur, yang kemudian mereka beri muatan mitos, sehingga bermuatan spiritual, maka setelah kehadiran agama islam terutama di daerah pesisir pantai serta daaerah aliran sungai-sungai besar di  Riau. Ternyata melayu muda lebih suka memeluk agama baru yang tradisional itu. Kedatangan agama islam itu telah membangkitkan semangat bermasyarakat yang lebih kuat dan kokoh, sehingga berdirilah beberapa kerajaan melayu dengan dasar islam.
Dengan semakin berkembangnya agama islam lambat laun juga mempengaruhi Melayu tua, agama islam juga mempengaruhi kehidupannya. Setelah melayu muda membentuk beberapa kerajaan melayu dengan dasar islam, maka pemegang kendali kerajaan disebut raja, sultan yang dipertuakan. Kerajaan dan kesultanan melayu tersebar diseluruh wilayah pesisir. Kerajaan dan kesultanan melayu inilah yang menghidupkan kebudayaan melayu.
Dengan berkembangnya islam, cara berpikir mitos terdahulu yang berkembang di masyarakat berubah menjadi berpikir secara rasional. Begitu juga pengaruh kerajaan kesultanan malaka diseluruh riau, sehingga tidak ada lagi yang tidak menerima agama isalm.
         Ada 6 macam Puak Melayu yang ada di Riau :
1.    Puak Melayu Riau-Lingga, mendiami bekas kerajaan Riau-Lingga, yakni sebagian besar daerah kepulauan Riau yang sekarang terdiri dari Kabupaten Riau, Karimun, dan Natuna. Mereka sebagian telah kawin dengan perantau Bugis dalam abad ke-18.
2.    Puak Melayu Siak, mendiami bekas kerajaan siak yang sebagian besar merupakan daerah aliran sungai Siak. Mereka sebagian nikah-kawin dengan keturunan Arab sehingga sebagian dari sultan Siak keturunan Arab.
3.    Puak Melayu Kampar, mendiami daerah aliran batang Kampar, mereka ada yang nikah-Kawin dengan perantau minangkabau dan ada pula dengan orang jawa menjadi Romusha Jepang.
4.    Puak Melayu Indragiri, mendiami daerah Indragiri yakni daerah aliran sungai Indragiri. Mereka ada yang nikah-kawin dengan perantau Banjar dan juga keturunan Arab.
5.    Puak Melayu Rantau Kuantan, mendiami daerah aliran Batang Kuantan yang telah masuk kedalam kabupaten kuantan Singigi.
6.    Puak  melayu Petalangan, mendiami daerah Belantara yang melalui beberapa cabang (anak) sungai daerah pangkalan kuras.
2.   Orang Melayu Berasal dari Nusantara ( Teori Nusantara)
Teori ini disokong oleh sarjana-sarjana seperti J.Crawfurd, K.Himly, Sutan Takdir Alisjahbana dan juga Gorys Keraf. Teori ini adalah disokong dengan alasan-alasan seperti di bawah :
a.    Bangsa Melayu dan Bangsa Kawa mempunyai tamadun yang tinggi
Pada abab ke 19,Taraf ini hanya dapat dicapai setelah perkembangan budaya yang lama.pekara ini menunjukan orang Melayu tidak berasal dari mana-mana,tetapi berasa dan berkembang di Nusantara
b.    K.Himly tidak bersetuju dengan pendapat yang mengatakan bahawa
Bahasa Melayu serumpun dengan Bahasa Champa. baginya
Persamaan yang berlaku di kedua-dua bahasa adalah satu fenomena ”ambilan”.
c.    Manusia Kuno Homo Soloinensis dan Homo Wajakensis terdapat di pulau jawa.penemuan manusia kuno ini di pulau jawa menunjukkan adanya kemungkinan orang melayu itu keturunan daripada manusia kuno tersebut yakni berasal daripada jawa dan mewujudkan tamadun bersendirian.
d.   Bahasa di Nusantara (Bahasa Austrinesia ) mempunyai perbezaan yang ketara dengan bahasa di Asia Tengah (Bahasa Indo-Eropah ).
D.      Evolusi Budaya Melayu
          Kebudayaan Melayu dari dari massa masuknya agama Hindu-Budha sampai sekarang selalu mengalami perubahan. perubahan itu dapat dilihat dari seni budayanya yang selalu mengikuti budaya barat, tapi tidak kebaratan. Inilah budaya yang di sebut budaya hibrid, yaitu budaya yang mengikuti perubahan zaman dan gempuran dari budaya-budaya barat atau lainnya. Jika ada yang baik untuk memajukan masyarakat maka akan ditiru dan dijadikan sebagai budaya modern.
Warisan budaya melayu terbesar yaitu segi bahasa yang menyatukan nusantara, dari segi bahasa ada juga, sastra, seni dan adat istiadat yang islami sebagai penapis masuknya sikap budaya yang tidak sesuai budaya ketimur-timuran. Budaya hibrid sangat bisa memnentukan keadaan budaya tersebut bisa punah atau tidak oleh waktu dan kurangnya kepedulian masyarakat terhadap budaya. Tapi dengan adanya pencampuran antara budaya barat yang mendominasi di era sekarang dengan budaya ketimuran yang telah keterbelakang, jadi dapat di pastikan budaya melayu tetap bertahan karna mengikuti perubahan zaman.

















BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Melayu yang telah mengerucut sebagai suku bangsa atau etnis ,orang yang tetap bersetia sebagai Melayu menjadi berbeda misalnya dengan suku bangsa atau etnis Batak, Aceh, Minang, Banjar, Dayak, Sunda, Jawa, Madura, Bugis, Ambon dan seterusnya yang telah mendefenisikan diri mereka sebagai suku bangsa atau etnis selain Melayu. Dengan ini orang Melayu kemudian mendefenisikan dirinya sebagai masyarakat yang bermastautin turun-temurun atau berasal–usul dari masyarakat yang mendiami wilayah bekas kerajaan-kerajaan melayu seperti di wilayah provinsi Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, serta sebagian Sumtera Utara, Sumatera Selatan, Jambi, juga Malaysia, Singapura, Thailand bagian selatan, Brunei Darusalam, serta negeri-negeri Melayu lainnya di Nusantara.
Warisan budaya melayu terbesar yaitu segi bahasa yang menyatukan nusantara, dari segi bahasa ada juga, sastra, seni dan adat istiadat yang islami sebagai penapis masuknya sikap budaya yang tidak sesuai budaya ketimur-timuran. Budaya hindu sangat bisa memnentukan keadaan budaya tersebut bisa punah atau tidak oleh waktu dan kurangnya kepedulian masyarakat terhadap budaya. Tapi dengan adanya pencampuran antara budaya barat yang mendominasi di era sekarang dengan budaya ketimuran yang telah keterbelakang, jadi dapat di pastikan budaya melayu tetap bertahan karna mengikuti perubahan zaman. Belakangan orang Melayu terdefenisikan pulah kian menyempit kepada mereka yang sehari-hari berkomuikasi dalam bahasa Melayu, berbudaya dan beradat-istiadat Melayu serta beragam Islam.
B.  Saran
Demikian makalah ini kami susun. Semoga apa yang telah kami uraikan diatas mengenai “sejarah dan evolusi melayu ” dapat bermanfaat bagi kita semua. Dan kami menyadari sebagai manusia biasa tidak luput dari kesalahan tidak terkecuali dengan makalah yang kami susun. Untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi terciptanya makalah yang lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Rujukan dari Internet:
Sari,Nurul.(2016). Makalah Bahasa Melayu.[Online].Tersedia:
Ghoffar,Abu Muslim.(2012).Penulisan Sejarah Dan BudayaMelayu.[Online].  Tersedia:http://abumuslimalghoffar.blogspot.com/2012/02/penulisan-sejarah-dan-budaya-melayu.html. [diakses Minggu, 14 Oktober 2018].
Saputri,Atika.(2014).Melayu Dan Asal Usul Melayu.[Online].Tersedia:
Nigsih,Putri.(2012).Sejarah dan Budaya Melayu.[Online].Tersedia:
[diakses Minggu, 14 Oktober 2018].




Makalah Kesetaran dan Keadilan Dalam Pendidikan

dirayumna


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Dunia semakin hari semakin mengalami perubahan. Perubahan dan perkembangan itu menuntut manusia harus terus belajar dimanapun dan kapanpun. Konsep belajar sepanjang hayat atau yang dikenal dengan Long Life education bisa dilakukan dimana saja, mulai dari lingkungan keluarga dimulai dari masa kanak-kanak, remaja, dewasa, bahkan sampai dengan usia tua, Belajar sepanjang hayat juga bisa dilakukan dalam pendidikam formal, dari mulai Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menegah Atas/kejuruan, Perguruan Tinggi. Lahirnya konsep belajar sepanjang hayat adalah bagian dari keprihatinan pada dunia pedidikan yang ada, karena masih banyak masyarakat yang tidak bisa menikmati pendidikan pada dunia formal.Oleh sebab itu belajar sepanjang hayat bisa dilakukan pada kegiatan non formal, misalnya kegiatan pelatihan, PLS, kelompok belajar dan  lain sebagainya.

B.  Rumusan Masalah
1.    Apa itu Pendidikan Inklusif?
2.    Apa itu Pendidikan Alternatif?
3.    Apa itu Education For All?
4.    Apa itu Life Long Education?

C.  Tujuan
1.      Untuk mengetahui apa itu pendidikan inklusif?
2.      Untuk mengetahui apa itu pendidikan alternatif?
3.      Bagaim Untuk mengetahui apa itu Education For All?
4.      Untuk mengetahui apa itu Life Long Education?

















BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pendidikan Inklusif
Pendidikan Inklusif adalah sistem layanan pendidikan yang mensyaratkan anak berkebutuhan khusus belajar di sekolah-sekolah terdekat di kelas biasa bersama teman-teman seusianya (Sapon-Shevin dalam O’Neil 1994).
Pendidikan inklusif merupakan suatu strategi untuk mempromosikan pendidikan universal yang efektif karena dapat menciptakan sekolah yang responsif terhadap keberagaman karakteristik dan kebutuhan anak. Di samping itu, pendidikan inklusif didasarkan pada hak asasi, model sosial, dan sistem yang disesuaikan pada anak dan bukan anak yang menyesuaikan pada sistem. Selanjutnya, pendidikan inklusif dapat dipandang sebagai pergerakan yang menjunjung tinggi nilai-nilai, keyakinan, dan prinsip-prinsip utama yang berkaitan dengan anak, pendidikan, keberagaman, dan diskriminasi, proses partisipasi dan sumber-sumber yang tersedia (Stubbs, 2002:9).
Beberapa dokumen internasional yang penting dan mendasari pendidikan inklusif yang telah disepakati oleh banyak negara termasuk Indonesia antara lain, Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia tahun 1948, Konvensi PBB tentang Hak Anak tahun 1989, Deklarasi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua tahun 1990, Peraturan Standar tentang Persamaan Kesempatan bagi para Penyandang Cacat tahun 1993, Pernyataan Salamanca dan Kerangka Aksi tentang Pendidikan Kebutuhan Khusus tahun 1994, Kerangka Aksi Forum Pendidikan Dunia tahun 2000 dan yang lainnya
Secara konseptual, dengan diterapkannya pendidikan inklusif memungkinkan ABK bersekolah di sekolah manapun sesuai dengan keinginannya. Akan tetapi kenyataannya belum banyak sekolah di Indonesia yang siap menerima ABK dengan berbagai alasan baik alasan teknis maupun nonteknis. Tidak ada peralatan khusus, guru tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan mengajar ABK, hadirnya ABK. Dapat mengganggu proses belajar-mengajar dan sebagainya sering menjadi alasan untuk tidak menerima ABK.

Pendidikan inklusif berdasarkan obyek.
a.    Inklusi tuna netra.
Inklusi tunanetra adalah pendidikan inklusi bagi anak yang mengalami gangguan penglihatan atau rusak penglihatannya ( buta total ) . Pendidikan inklusi tunanetra ini peserta didik diberi alat bantu software JOS yang di install pada PC atau laptop, sehingga semua tulisan dapat diubah menjadi bunyi oleh software tersebut.
b.    Inklusi tuna rungu.
Inklusi tunarungu adalah pendidikan inklusi untuk anak yang kehilangan seluruh atau sebagian daya pendengarannya sehingga mengalami gangguan berkomunikasi secara verbal. Untuk alat bantu yang digunakan adalah menggunakan bahasa mimik atau bahasa isyarat.



c.    Inklusi tuna diaksa.
Inklusi tunadiaksa adalah pendidikan inklusi untuk anak yang mengalami cacat fisik berupa tidak memiliki anggota tubuh ( tangan dan kaki ) ataupun jika punya kaki maupun tangannya tidak dapat berfungsi secara baik.

Pendidikan inklusif dimaksudkan sebagai sistem layanan pendidikan yang mengikut-sertakan anak berkebutuhan khusus belajar bersama dengan anak sebayanya di sekolah reguler yang terdekat dengan tempat tinggalnya. Penyelenggaraan pendidikan inklusif menuntut pihak sekolah melakukan penyesuaian baik dari segi kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan, maupun sistem pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan individu peserta didik. Manfaat pendidikan inklusif adalah:
·       Membangun kesadaran dan konsensus pentingnya pendidikan inklusif sekaligus menghilangkan sikap dan nilai yang diskriminatif.
·       Melibatkan dan memberdayakan masyarakat untuk melakukan analisis situasi pendidikan lokal, mengumpulkan informasi semua anak pada setiap distrik dan mengidentifikasi alasan mengapa mereka tidak sekolah.
·       Mengidentifikasi hambatan berkaitan dengan kelainan fisik, sosial dan masalah lainnya terhadap akses dan pembelajaran.
Melibatkan masyarakat dalam melakukan perencanaan dan monitoring mutu pendidikan bagi semua anak.

B.  Pendidikan Alternatif
Istilah pendidikan alternatif merupakan istilah khusus dari berbagai program pendidikan yang dilakukan dengan cara berbeda dari cara tradisional. Secara umum pendidikan alternatif memiliki karakteristik sebagai berikut: pendekatannya bersifat individual, memberi perhatian besar (kepada peserta didik, orang tua/keluarga, dan pendidik) serta dikembangkan berdasarkan minat dan pengalaman.
Macam-macam pendidikan alternatif.
1.    Sekolah Umum Pilihan (Public Choice)
Sekolah umum pilihan adalah lembaga pendidikan dengan biaya negara (dalam pengertian sehari-hari disebut sekolah negeri) yang menyelenggarakan program belajar dan pembelajaran yang berbeda dengan program regular (konvensional), namun mengikuti sejumlah aturan baku yang telah ditentukan. Contoh : SMP Terbuka, SMA Terbuka, Sekolah Bibit (Taruna Nusantara, Sekolah Analisis Kimia, dan SMA Angkasa ), dan Kejar Paket (A, B, dan C).

2.    Sekolah / Lembaga Pendidikan Umum untuk Siswa Bermasalah (student at risk)
Sekolah/lembaga pendidikan umum untuk siswa bermasalah adalah lembaga pendidikan yang diselenggarakan untuk anak-anak bermasalah. Pengertian “siswa bermasalah” di sini meliputi mereka yang.
a.    Tinggal kelas karena lambat belajar.
b.    Nakal atau mengganggu lingkungan (termasuk lembaga permasyarakatan anak).
c.    Korban penyalahgunaan narkoba
d.   Korban trauma dalam keluarga karena perceraian orang tua, ekonomi, etnis/budaya (termasuk bagi anak suku terasing dan anak jalanan dan gelandangan).
e.    Putus sekolah karena berbagai sebab, belum pernah mengikuti program sebelumnya.

3.    Sekolah / Lembaga Pendidikan Swasta (Independent)
Sekolah/Lembaga Pendidikan Swasta mempunyai jenis, bentuk dan program yang sangat beragam, termasuk di dalamnya program pendidikan bercirikan agama seperti pesantren & sekolah Minggu, lembaga pendidikan bercirikan keterampilan fungsional seperti kursus atau magang, lembaga pendidikan dengan program perawatan atau pendidikan usia dini seperti penitipan anak, kelompok bermain dan taman kanak-kanak. Contoh : Pesantren, Sekolah Alam, Sekolah Alternatif Qaryah Thayyibah.

4.    Pendidikan di rumah (home-based schooling)
Pendidikan di rumah termasuk dalam kategori ini adalah pendidikan yang diselenggarakan oleh keluarga sendiri terhadap anggota keluarganya yang masih dalam usia sekolah. Pendidikan ini diselenggarakan sendiri oleh orang tua atau keluarga dengan berbagai pertimbangan, seperti: menjaga anak-anak dari kontaminasi aliran atau falsafah hidup yang bertentangan dengan tradisi keluarga (misalnya pendidikan yang diberikan keluarga yang menganut fundalisme agama atau kepercayaan tertentu); menjaga anak-anak agar selamat dan aman dari pengaruh negatif lingkungan; menyelamatkan anak-anak secara fisik maupun mental dari kelompok sebayanya; menghemat biaya pendidikan; dan berbagai alasan lainnya.

C.  Education For All
EFA (Education for All) adalah pendidikan yang merata untuk semua lapisan masyarakat tanpa membedakan suku, ras, agama, golongan, pendidikan adalah hak Warga Negara tanpa kecuali baik berupa pendidikan formal maupun non formal. Hal tersebut diatur dalam UUD 1945 pasal 31.
Hakekat Education for All pada intinya adalah mengupayakan agar setiap warga negara dapat memenuhi haknya, yaitu layanan pendidikan. Pembelajaran  untuk semua merupakan wujud pembelajaran yang menyangkut semua usia entah itu dewasa, orang tua maupun anak-anak yang bertujuan agar lebih mengerti tentang sesuatu.
Semua bangsa di dunia berupaya untuk menjamin pendidikan untuk semua bagi setiap warganya. Meskipun negara-negara tersebut terus mengupayakan untuk menjamin pendidikan untuk semua, tetapi masih saja ditemukan kendala. Beberapa kendala tersebut antara lain:
·      Lebih dari 100 juta anak-anak, termasuk setidaknya 60 juta anak-anak, tidak memiliki akses terhadap pendidikan dasar.
·      Lebih dari 960 juta orang dewasa, dua pertiga di antaranya adalah perempuan yang buta huruf, dan buta huruf adalah masalah yang signifikan di semua negara, termasuk di negara industri dan berkembang.
·      Lebih dari sepertiga orang dewasa di dunia tidak mendapatkan pengetahuan tertulis, keterampilan, dan teknologi baru yang dapat meningkatkan kualitas hidup mereka dan membantu mereka dalam beradaptasi menghadapi perubahan sosial dan budaya.
·      Lebih dari 100 juta anak-anak dan orang dewasa yang tak terhitung, gagal untuk menyelesaikan program pendidikan dasar.
·      Jutaan orang telah memenuhi persyaratan untuk memperoleh pendidikan, namun mereka tidak memperoleh pengetahuan dan keterampilan esensial.
Selain permasalahan di atas, masih banyak masalah-masalah lain yang menghambat upaya-upaya untuk memenuhi kebutuhan belajar dasar. Masalah terkait kemunduran ekonomi, pertumbuhan penduduk yang cepat, kesenjangan ekonomi antar bangsa, adanya konflik dan perang saudara serta berbagai bentuk tindakan kejahatan dan kekerasan (kriminal) telah menyebabkan kemunduran besar dalam pendidikan dasar pada 1980-an di banyak negara sedang berkembang. Di beberapa negara lain, pertumbuhan ekonomi telah tersedia untuk membiayai perluasan pendidikan, namun meskipun demikian, banyak jutaan tetap dalam kemiskinan, tidak mampu bersekolah atau buta huruf. Di negara-negara industri tertentu juga, penghematan dalam pengeluaran pemerintah selama tahun 1980-an telah menyebabkan kemerosotan pendidikan.
Dalam rangka memenuhi education for all, EFA memiliki beberapa komitmen yang ingin dicapai dalam jangka waktu tertentu, diantaranya :
·      Memperluas dan meningkatkan perawatan anak usia dini yang komprehensif dalam pendidikan.
·      Memastikan bahwa pada 2015 semua anak di dunia tanpa terkecuali memiliki akses lengkap dan bebas ke wajib pendidikan dasar yang berkualitas baik.
·      Memastikan bahwa kebutuhan belajar semua pemuda dan dewasa dipenuhi melalui akses yang adil untuk pembelajaran yang tepat dan program ketrampilan hidup.
·      Mencapai 50% peningkatan dalam keaksaraan orang dewasa pada tahun 2015, khususnya bagi perempuan, dan akses ke pendidikan dasar dan pendidikan berkelanjutan bagi semua orang dewasa secara adil.
·      Menghilangkan perbedaan gender pada pendidikan dasar dan menengah pada tahun 2005, dan mencapai kesetaraan gender dalam pendidikan dengan tahun 2015, dengan fokus pada perempuan bahwa mereka dipastikan mendapat akses penuh dan sama ke dalam pendidikan dasar dengan kualitas yang baik.
·      Meningkatkan semua aspek kualitas pendidikan dan menjamin keunggulan semua sehingga diakui dan diukur hasil pembelajaran yang dicapai oleh semua, khususnya dalam keaksaraan, berhitung dan kecakapan hidup yang esensial.
Untuk mencapai komitmen Education for All (EFA) seperti yang diharapkan maka diperlukan upaya-upaya antara lain sebagai berikut :
·      Menyediakandan menambah dana pendidikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan menyekolahkan anak-anak di dunia.
·      Meningkatkan kualitas pendidikan dengan pelatihan dan perekrutan guru profesionalantara sekarang dan 2015 sehingga semua anak memiliki kesempatan untuk belajar di kelas.
·      Mendorong pemerintah untuk mendefinisikan dan mengukur standar minimal pembelajaran, sebagai tonggak utama terhadap peningkatan hasil pembelajaran dan strategi yang lebih luas untuk menjamin kualitas pendidikan di sekolah-sekolah, sehingga peserta didik terus mengembangkan keahlian yang dibutuhkan untuk pekerjaan dan kontribusi untuk ekonomi produktif.
·      Menjangkau semua anak dengan mengembangkan strategi-strategi baru untuk mencapai sulit dijangkau anak-anak dalam konflik, di daerah terpencil, dan dari kelompok-kelompok didiskriminasi.
·      Memperluas kesempatan pendidikan pada semua tingkatan, termasuk perawatan anak usia dini dan pengembangan, pendidikan menengah dan penyediaan kesempatan kedua belajar bagi mereka melalui pendidikan non-formal dan program keaksaraan orang dewasa.
·      Menjamin bahwa anak-anak memiliki cukup untuk makan dan untuk belajarmengembangkan kesehatan melalui penyediaan makanan sekolah.

Mendorong pemerintah nasional untuk mempersembahkan paling sedikit 20% dari anggaran nasional untuk pendidikan dan untuk menghapuskan biaya yang mencegah begitu banyak anak-anak dari pergi ke sekolah.

D.  Life Long Education
Pendidikan Seumur Hidup” atau “Life-Long Education” bukan “(long life education”) adalah makna yang seharusnya benar-benar terkonsepsikan secara jelas serta komprehensif dan dibuktikan dalam pengertian, dalam sikap, perilaku dan dalam penerapan terutama bagi para pendidik di negeri kita.
Pendidikan seumur hidup atau belajar seumur hidup bukan berarti kita harus terus sekolah sepanjang hidup kita. Sekolah banyak diartikan oleh masyarakat sebagai tugas belajar yang terperangkap dalam sebuah “ruang” yang bernama kelas, bukan itu yang dimaksud. Paradigma belajar seperti ini harus segera kita rubah. Pengertian belajar bukan hanya berada dalam ruangan tapi belajar disemua tempat, semua situasi dan semua hal.
Pendidikan seumur hidup bersifat holistik, sedangkan pengajaran bersifat spesialistik, terutama pengajaran yang terpilih dan terinferensikan dalam berbagai bentuk kelembagaan belajar. Holistik memiliki arti lebih mengarah kepada pengutuhan atau penyempurnaan. Manusia selalu berusaha uintuk mencapai titik kesempurnaan dalam segala hal, namun seberapa besar usahapun kita tidak akan sampai pada kesempurnaan itu. Karena kesempurnaan hanya milik Sang Pencipta Alam.
Belajar berarti memfungsikan hidup, orang yang tidak belajar berarti telah kehilangan hidupnya, paling tidak telah kehilangan hidupnya sebagai manusia. Karena hidup manusia itu bukan hanya individu dalam dirinya saja tapi juga interaksi dengan sesamanya, dengan antar generasi dan kehidupan secara universal.
Dalam Pendidikan atau Belajar terdapat interaksi antara tantangan (challenge) dari alam luar diri manusia dan balasan (response) dari daya dalam diri manusia. Dalam belajar juga terjadi interaksi komunikasi antara manusia dan berlangsungnya kesinambungan antar generasi serta belajar melestarikan hidup, mengamankan hidup dan menghindari pengrusakan hidup. Belajar berarti menghargai hidup kita.  Dalam agama sering kita dengar kalimat ” Belajarlah (tuntutlah ilmu) dari ayunan sampai liang lahat”. Belajar merupakan tugas semua manusia, tua-muda, besar-kecil, kaya-miskin semua mempunyai tugas tersebut. Kita belajar mengetahui apapun yang ada di dunia ini untuk kemajuan individu atau universal. Belajar memberi, belajar menerima, belajar bersabar, belajar menghargai, belajar menghormati dan belajar semua hal.
1.    Asas pendidikan seumur hidup
Asas pendidikan seumur hidup merumuskan bahwa proses pendidikan merupakan suatu proses kontinu yang bermula sejak seseorang dilahirkan hingga meninggal dunia.
Dasar-Dasar Pendidikan Seumur Hidup:
a.    Menurut GBHN 1978 dinyatakan bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam lingkungan rumah tangga, sekolah, dan masyarakat sehingga pendidikan seumur hidup merupakan tanggung jawab keluarga, masyarakat dan  pemerintah.
b.    Secara yuridis formal konsepsi pendidikan seumur hidup dituangkan dalam Tap MPRNo. IV/MPR/1973 jo Tap MPR No. IV/MPR/1978 tentang GBHN, dengan prinsip-Prinsip pembangunan nasional.
·      Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusiaIndonesia   seutuhnya dan pembangunan seluruh rakyat Indonesia (arah  pembangunan jangka panjang).
·      Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan dalam keluarga, sekolah dan masyarakat.
·      Konsepsi manusia Indonesia seutuhnya merupakan konsepsi dasar tujuan pendidikan nasional (UU Nomor 2 tahun 1989 Pasal 4) yakni pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

2.    Pendidikan Seumur Hidup Dalam Berbagai Perspektif
Dasar-dasar pemikiran life long education.
a.    Tinjauan ideologis
Setiap manusia hidup mempunyai hak asasi yang sama dalam hal pengembangan diri, untuk  mendapatkan pendidikan seumur hidup untuk peningkatan pengetahuan dan ketrampilan hidup.
b.    Tinjauan ekonomis
Pendidikan seumur hidup dalam tinjauan ekonomi memungkinkan seseorang untuk.
·      Meningkatkan produktivitasnya.
·      Memelihara dan mengembangkan sumber-sumber yang dimilikinya.
·      Memungkinkan hidup dalam lingkunganyang sehat dan menyenangkan
c.    Tinjauan sosiologis
Pendidikan seumur hidup yang dilakukan oleh orangtua merupakan solusi untuk memecahkan masalah pendidikan. Dengan orang tua bersekolah maka anak-anak mereka juga bersekolah.
d.   Tinjauan Filosofis
Pendidikan seumur hidup secara filosofi akan memberikan dasar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
e.    Tinjauan Teknologis
Semakin maju jaman semakin berkembang pula ilmu pengetahuan dan teknologinya. Dengan teknologi maka pendidikan seumur hidup akan semakin mudah. Begitu pula sebaliknya.
f.     Tinjauan Psikologis dan Paedagogis
Pendidikan pada dasarnya dipandang sebagai pelayanan untuk membantu pengembangan     personal sepanjang hidup yang disebut development. Konseptualisasi pendidikan seumur hidup merupakan alat untuk mengembangkan individu-individu yang akan belajar seumur hidup agar lebih bernilai bagi masyarakat.

Mengapa pendidikan seumur hidup diperlukan?
1)   Alasan keadilan
Terselenggaranya PSH secara meluas di kalangan masyarakat dapat menciptakan iklim lingkungan yang memungkingkan terwujudnya keadilan sosial. Masyarakat luas dengan berbagai stratanya merasakan adanya persamaan kesempatan memperoleh pendidikan. Selanjutnya berarti pula paersamaan sosial,ekonomi dan politik. Hinsen menunjukkan konteks yang lebih luas yaitu dengan terselenggaranya PSH yang lebih baik akan membuka peluang bagi perkembangan nasional untuk mencapai tingkat persamaan internasional (cropley:33). Dalam hubungan ini Bowle mengemukakan statemen bahwa PSH  pada prinsipnya dapat mengeliminasi peranan sekolah sebagai alat untuk melestarikan ketidakadilan sosial (cropley:33).
2)   Alasan ekonomi
Persoalan PSH dikaitkan dengan biaya penyelenggaraan pendidikan,produktivitas kerja, dan peningkatan GNP. Di negara sedang berkembang biaya untuk perluasan pendidikan dan meningkatkan kualitas pendidikan pendidikan hampir-hampir tak tertanggulangi. Di satu sisi tantangan untuk mengejar keterlambatan pembangunan dirasakan, sedangkan di sisi lain keterbatasan biaya dirasakan menjadi penghambat. Tidak terkecuali di negara yang sudah maju teknologinya yaitu dengan munculnya kebutuhan untuk memacu kualitas pendidikan dan jenis-jenis pendidikan.
3)   Alasan perkembangan IPTEK
Bahwa sudah dijelaskan bahwa betapa luasnya pengaruh perkembangan Iptek dalam semua sektor pembangunan. Meskipun diakui bahwa pengaruh tersebut di dalam dunia pendidikan belum sejauh yang terjadi pada dunia pertanian, industri,transportasi dan komunikasi, namun intervensinya di dalam dunia pendidikan telah menggejala dalam banyak hal.
4)   Alasan sifat pekerjaan
Kenyataan menunjukkan bahwa perkembangan Iptek di satu sisi dalam skala besar menyita pekerjaan angan diganti dengan mesin,tetapi tak dapat dipungkiri di sisi lain juga memberikan andil kepada munculnya pekerjaan – pekerjaan baru yang menyerap tenaga kerja dan munculnya cara-cara baru untuk memproses pekerjaan. Akibatnya pekerjaan menuntut persyaratan kerja yang selalu saja berubah. Untuk dapat tetap menangani pekerjaan yang menuntut persyaratan – persyaratan baru seseorang harus berkemauan untuk selalu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan secara terus menerus.





































BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Pendidikan inklusif merupakan suatu strategi untuk mempromosikan pendidikan universal yang efektif karena dapat menciptakan sekolah yang responsif terhadap keberagaman karakteristik dan kebutuhan anak. Pendidikan alternatif merupakan istilah khusus dari berbagai program pendidikan yang dilakukan dengan cara berbeda dari cara tradisional. EFA (Education for All) adalah pendidikan yang merata untuk semua lapisan masyarakat tanpa membedakan suku, ras, agama, golongan, pendidikan adalah hak Warga Negara tanpa kecuali baik berupa pendidikan formal maupun non formal. Pendidikan Seumur Hidup atau Life-Long Education adalah makna yang seharusnya benar-benar terkonsepsikan secara jelas serta komprehensif dan dibuktikan dalam pengertian, dalam sikap, perilaku dan dalam penerapan terutama bagi para pendidik di negeri kita.

B.  Saran
Dengan selesainya makalah ini kami berharap kepada para pembaca agar dapat member masukan baik berupa kritik atau saran yang sifatnya membangun agar pada perbaikan makalah ini, pembaca mendapat manfaat yang lebih daripada sebelumnya.


























DAFTAR PUSTAKA

Kustandi, Cecep. (2016). Pendidikan Inklusif. [Online]. Tersedia: https://cecepkustandi.wordpress.com/2016/05/12/pendidikan-inklusif/[diakses 6 desember 2017]
Kustandi, Cecep. (2016). Pendidikan Untuk Semua. [Online]. Tersedia: https://cecepkustandi.wordpress.com/2016/05/12/pendidikan-untuk-semua-education-for-all/ [diakses 6 desember 2017]
Romdloni, Machrus. (2012). Pendidikan Seumur Hidup. [Online]. Tersedia: http://machrusromdloni.blogspot.co.id/2012/11/pengertian-pendidikan-seumur-hidup.html [diakses 6 desember 2017]